Kontroversi Pernyataan Kedudukan Al-Faqih Al-Muqqadam di Atas Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Sebuah rekaman percakapan yang beredar di kalangan masyarakat kembali memicu diskusi mengenai perbandingan kedudukan dua tokoh besar dalam dunia sufi
Warta Batavia - Jakarta – Sebuah rekaman percakapan yang beredar di kalangan masyarakat kembali memicu diskusi mengenai perbandingan kedudukan dua tokoh besar dalam dunia tasawuf, yaitu Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dan Al-Faqih Al-Muqqadam Muhammad bin Ali Ba'alawi.

Dalam rekaman tersebut, sejumlah pernyataan kontroversial disampaikan terkait klaim keutamaan dan tingkatan spiritual kedua wali Allah. Berikut rangkuman informasi yang terungkap.


Klaim Kedudukan "Ana fil auliya ka Muhammad fil anbiya"

Dalam percakapan tersebut, disebutkan bahwa Al-Faqih Al-Muqqadam Muhammad bin Ali Ba'alawi pernah menyatakan: "Ana fil auliya ka Muhammad fil anbiya" (Kedudukanku di antara para wali seperti kedudukan Nabi Muhammad di antara para nabi). Pernyataan ini dikaitkan dengan pengakuan tentang tingginya derajat Faqih Muqoddam di kalangan aulia.

Perbandingan Makam Wali Masyhur dan Wali Mastur

Salah satu pembicara dalam rekaman itu mengungkapkan bahwa terdapat pernyataan yang menyebutkan kedudukan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (sebagai pemimpin wali masyhur) masih jauh di bawah kedudukan Al-Faqih Al-Muqqadam (sebagai pemimpin wali mastur). Disebutkan pula perbandingan "1000 kali lipat" terkait keutamaan makom wali mastur dibanding wali masyhur.

Protes ke Majalah Cahaya Nabawi

Rekaman itu juga memuat pengakuan bahwa terkait pelecehan Syekh Abdul Qodi Jaelani, Gus Faqih Wirahadiningrat pernah melakukan protes langsung ke pimpinan redaksi Majalah Cahaya Nabawi (disebutkan Ustaz Taufik Segaf) yang saat itu dipimpin oleh kakak ipar beliau, Habib Abu Bakar bin Hasan Asgaf. Protes tersebut didampingi oleh ayah angkat bernama Habib Husein bin Muhammad bin Awi Asgaf. Isu protes terkait pemberitaan yang dinilai merendahkan kedudukan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Kritik Sanad dan Genealogi

Disebutkan dalam diskusi tersebut bahwa secara genealogis, Al-Faqih Al-Muqqadam wafatnya ayah beliau ketika usianya baru 4 tahun. Hal ini dinilai sulit untuk meyakini bahwa beliau menjadi murid langsung secara rohani dari ayahnya yang telah meninggal. 

Pernyataan lain menyebutkan bahwa silsilah tarekat Alawiyah sebenarnya mengarah ke Syekh Abu Madyan, yang merupakan cucu murid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Dengan demikian, secara tarekat, Al-Faqih Al-Muqqadam tetap dinilai sebagai pengikut Qadiriyah.

"Politik Kolonial" dan Upaya "Membunuh Karakter"

Gus Faqih Wirahadiningrat dalam rekaman dalam video itu menyatakan adanya target politik untuk "membunuh" karakter Syekh Abdul Qadir Al-Jailani di Nusantara. Hal ini diduga agar kelompok Ba'Alawi lebih unggul dibanding keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Pernyataan "politik Belanda" dan "politik kooptasi kolonial" juga dilontarkan untuk mengkaburkan satu pihak demi meninggikan pihak lain.

Perbedaan Kedudukan di Dunia dan Barzakh

Dalam percakapan itu Habib Hasan menyebut perbedaan kemasyhuran: Syekh Abdul Qadir Al-Jailani lebih masyhur di dunia, sementara Al-Faqih Al-Muqqadam dinilai lebih terkenal di alam barzakh. Disebutkan pula pernyataan dari kalangan Ba'Alawi yang mengakui barokah dan madad dari Al-Faqih Al-Muqqadam lebih besar.

Tantangan Isbat dan Tes DNA

Rekaman itu juga mengangkat tantangan dari Kanjeng Raden Tubagus Nurfadil (dikupas oleh Gus Arya) kepada Ketua Rabithah Alawiyah Ustaz Taufik Segaf untuk melakukan isbat internasional dan tes DNA. Tantangan tersebut terkait dengan tuduhan status nasab. Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi mengenai respons atau jawaban atas tantangan tersebut.

Kaitan dengan Peristiwa Geger Cilegon

Pembicaraan juga mengaitkan kontroversi ini dengan peristiwa sejarah Geger Cilegon, di mana tarekat Qadiriyah disebut-sebut terlibat dalam pemberontakan melawan kolonial Belanda. Fatwa dari Utsman bin Yahya yang menyesatkan Syekh Abdul Karim (pemimpin tarekat Qadiriyah) dinilai menjadi faktor kekalahan pejuang pribumi, dengan korban ribuan orang dari kalangan tarekat Qadiriyah dieksekusi.

Penegasan Akhir dari Gus Faqih Wirahadiningrat

Pembicara dalam rekaman itu menegaskan bahwa klaim yang merendahkan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani harus diluruskan, karena beliau adalah Sultanul Auliya (pemimpin para wali). Pernyataan bahwa tarekat Alawiyah yang dimulai dari Al-Faqih Al-Muqqadam sebenarnya bersumber dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailani secara silsilah tarekat. Gus Faqih juga mengimbau agar tidak terjadi perendahan, karena guru harus dimuliakan. (Qodrat Arispati)

Simak videonya di YoTube: 



LihatTutupKomentar